Menu

Banser, Sultan Mataram, dan Guru Spiritual dari Persia

  Dibaca : 393 kali
Banser, Sultan Mataram, dan Guru Spiritual dari Persia
Ilustrasi Diklatsar Banser

Oleh Bagus Mangkubumen

[dropcap]D[/dropcap]i antara beberapa materi tambahan dalam Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar Banser), sesi pengisian kanuragan adalah salah satu yang menarik.

Saya adalah peserta Diklatsar Banser Gelombang II yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, pada awal 2013. Sebagai fungsionaris PP GP Ansor adalah wajib menjadi kader Banser.

Diklatsar digelar selama 3 hari dengan instruktur yang memiliki kompetensi di bidangnya. Bahkan, instruktur di sesi kanuragan adalah seorang kiai mantan anggota Banser yang pernah terlibat pembersihan PKI tahun 1966. Kiai ini juga pernah menjadi target operasi bersandi Naga Hijau tahun 1998, namun berhasil lolos dari mau setelah mengalahkan para ninja pengeroyoknya.

Saat mengisi materi, kiai dari Ciomas ini usianya sudah berkepala 8. Tubuhnya yang berbalut gamis tampak tak kekar lagi. Memakai sorban di kepalanya, tampak rambut yang sudah memutih. Demikian juga jenggotnya yang panjang sudah berwarna perak.

Kami berbaris di lapangan. Setelah berdoa, lalu disilakan duduk bersila. Tangan-tangan menempel pundak teman di depan dan disebelahnya. Tersambung satu dengan lainnya. Saya memilih di paling belakang, sehingga tak ada yang menempelkan tangan ke saya.

Meski di belakang, saya masih bisa dengan jelas apa yang disampaikan instruktur. Di sebelah kanannya tampak beberapa senjata, juga ube rampe seperti telor, gabah dan botol-botol kecil minyak wangi. “Ini adalah gabungan dari daerah. Telor dari Ambarawa, gabah dari Banten, dan minyak wangi dari Madura,” katanya.

Lalu, kiai ini mengajarkan dan mengijazahkan doa dan hizibnya, sebelum membagikan telor, sebutir gabah dan minyak wangi kepada peserta untuk ditelannya. Sebagai penyempurna ia juga mengajarkan mantra, yang punya berbagai guna seperti kebal senjata, dan melawan jin. Pantangannya tak boleh dibaca saat berkendara. Bisa menyebabkan konslet dan mesin terbakar. Bunyi mantranya aneh, tapi enak didengar. Bahasanya bukan bahasa Arab atau Nusantara. Iramanya seperti sajak. Tapi tak ada yang tahu maknanya. “Yadayuda dayudaya……….dst.

Yang menarik adalah ketika kiai ini menjelaskan sejarah mantranya, dan memperagakan kedigdayaannya. “Itu adalah bahasa bangsa majusi. Bangsa penyembah api,” kata Kiai itu. Tentu, yang dimaksud adalah bangsa Persia. Ilmu mantra ini diajarkan oleh Syech Subakir. Beliau didatangkan ke Bumi Nusantara oleh Sultan Muhammad I dari Turki. Dia terkenal sakti mandraguna, dan penakluk bangsa jin.

Lalu, digenggamnya sebilah pedang itu. Meski tubuhnya tampak renta, ternyata kiai ini masih lincah berkonto: melompat dan pethakilan. Setelah itu pedangnya diserahkan ke salah satu peserta untuk disabetkan beberapa kali ke tumbuhnya. Kebal!

***

Bagi saya, cerita Syeh Subakir lebih menarik. Saya sendiri ragu energi ilmu kanuragan yang dialirkan ke para peserta Diklatsar itu masuk ke tubuh saya. Apalagi, saya balik kalimat-kalimat “pasword” pembuka jalan masuk.

Bagi kalangan Islam Nusantara, nama Syech Subakir termasuk salah satu tokoh yang termasyhur. Makamnya di Tidar, Magelang, tak pernah sepi peziarah. Jasanya besar bagi masyarakat di Jawa, termasuk penguasa Mataram.

Syech Subakir dikenal penumbal tanah Jawa, sehingga bisa ditempati para manusia. Dalam kisah lain, ulama inilah yang membantu Senopati Sutawijaya putera Ki Ageng Pemanahan membuka dan menaklukkan para jin di Hutan Mentaok, sehingga bisa dibangun menjadi pusat kota.

Mentaok adalah kawasan hutan angker yang telah beratus-ratus tahun tak pernah dijamah manusia. Itulah kawasan para jin. Janma mara janma mati. Siap yang masuk ia akan mati dan tak bisa kembali.

Hutan ini adalah kawasan yang dihadiahkan Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan, satu dari tiga orang yang berjasa atas berdirinya Kesultanan Pajang sekaligus menjadikan Joko Tingkir menjadi rajanya dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Ketiganya adalah tim khusus yang sukses mengeksekusi mati Aria Penangsang.

Dua orang lainnya adalah Ki Ageng Juru Martani, yang diberi hadiah daerah istimewa di sebelah barat Semarang, dan Ki Ageng Panjawi yang diserahi daerah Pati dan sekitarnya. Namun, Ki Juru Martani menolak pemberian itu dengan alasan sudah tua, dan memilih menemani Ki Ageng Pemanahan yang masih muda.

Bila surat keputusan raja perihal keistimewaan daerah Ki Panjawi langsung ditandatangani, tidak demikian dengan surat ketetapan keistimewaan daerah yang dijatahkan kepada Ki Ageng Pemanahan.

Usut punya usut, ternyata ada campur tangan dari Sunan Giri. Saat itu penguasa Giri Kedaton ini  adalah pimpinan Wali Sanga sekaligus memiliki wewenang melantik Joko Tingkir menjadi Sultan Pajang. Menurut Sunan Giri, Hutan Mentaok adalah tanah keramat. Siapa pun yang menguasai tanah itu akan memiliki pamor yang bisa menenggelamkan siapa saja, termasuk Kesultanan Pajang. Di Tanah Mentaok itulah energi dan kekuatan Tanah Jawa tersimpan. Karena di situlah bekas Kerajaan Mataram (hindu).

Kerajaan Mataram (Kuno) atau Kerajaan Medang adalah kerajaan Hindu abad VII-XI yang berpusat di sekitar Yogyakarta dan Prambanan. Munculnya kerajaan ini diterangkan dalam prasasti yang ditemukan di daerah Canggal, di barat daya Magelang. Kerajaan ini musnah karena letusan Gunung Merapi. Namun, energinya masih tersimpan di balik debu dan belukar hutan.

Sunan Giri berkukuh agar Joko Tingkir membatalkan keputusannya itu. Joko Tingkir dihadapkan pada dilema. Sebagai santri ia harus patuh pada gurunya, namun sebagai Raja ia terikat pada sabda pandita ratu titah tan keno wola-wali. Faktanya, keistimewaan daerah Mataram itu tak juga ditetapkan. Ki Ageng Pemanahan pun iklas.

Bertahun-tahun ketetapan itu digantung. Hingga akhirnya Sunan Kalijaga turun menasehati Joko Tingkir. Agar Sultan setia pada janji. Kira-kira 7 tahun kemudian keistimewaan Tanah Mentaok itu baru direalisasikan. Bahkan tidak kepada Ki Ageng Pemanahan, tetapi kepada anaknya Senopati Sutawijaya.

Hanya dalam sekejap, Tanah Mentaok berkembang pesat menjadi pusat kota. Bahkan, daya tariknya melebihi Ibu Kota Pajang. Ia menyebut wilayahnya sebagai Mataram. Seperti punya daya magic, Mentaok yang kemudian bernama Kota Gede itu mampu menarik berbagai kalangan tua maupun muda dari berbagai penjuru. Tak butuh waktu lama, Senapati atau Sutawijaya berhasil membangun kekuatan prajuritnya.

Kekhawatiran Sultan Pajang pun mulai timbul. Benih-benih curiga timbul, intrik politik mulai muncul, lalu saling ancam mengancam, hingga akhirnya saling gelar pasukan. Sejarah kemudian mencatat bahwa apa yang diramalkan oleh Sunan Giri menjadi kenyataan. Gunung Merapi meletus. Kerajaan Pajang runtuh sesaat setelah pasukan Pajang hendak menyerbu Mataram. Joko Tingkir menyadari takdirnya. Ia madeg pandito ratu.

Di antara beberapa tokoh penting di balik berdirinya Mataram itu adalah Syeh Subakir. Dialah yang membuka kunci-kunci keramat Mataram di Hutan Mentaok. Syeh Subakir adalah ulama dari Persia sekaligus guru spiritual Mataram, yang ilmunya banyak diwariskan kepada kaum nahdliyyin. Setidaknya, kepada para peserta Diklatsar Banser.

Wallahu’alam.

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional