Menu

Wow, Kiriman Uang TKI ke Tanah Air Capai Rp136,5 Triliun

  Dibaca : 138 kali
Wow, Kiriman Uang TKI ke Tanah Air Capai Rp136,5 Triliun
Nusron Wahid, Kepala BNP2TKI, berada di tengah-tengah buruh migran Indonesia di Hong Kong.

AnsorNews.com, JAKARTA — Remitansi alias aliran uang tenaga kerja Indonesia ke Tanah Air tahun 2015 diperkirakan mencapai US$10,5 miliar (Rp136,5 triliun), naik dibandingkan angka 2014 yang senilai US$8,3 miliar atau Rp97 triliun.

Sebagian besar uang remitansi tersebut, sebagaimana biasanya, disalurkan ke rumah tangga dan digunakan buat memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membiayai pendidikan dan keperluan anak.

Indonesia merupakan negara penerima remitansi terbesar ke-4 di dunia. India berada di posisi pertama dengan jumlah US$72,2 miliar, China US$63,9 miliar dan Filipina US$29,7 miliar, sebagaimana publikasi Bank Dunia dalam laporannya yang bertema Migration and Remmitances Factbook 2016.

Menurut laporan itu, remitansi pekerja migran berperan besar dalam pembangunan nasional, serta menopang jutaan rumah tangga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Uang yang dikirimkan TKI itu umumnya, dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membiayai pendidikan dan keperluan anak.”

“Hanya sedikit remitansi itu dipakai untuk investasi fisik, seperti membeli ternak, disimpan dalam bentuk deposito, membeli lahan pertanian dan peralatan pertanian maupun berdagang,” kata peneliti Researsch Asia Institute  Silvia Mila Arini.

Katanya, hal ini tidak mengejutkan sebab motivasi para pekerja migran adalah untuk menopang kehidupan keluarga atau rumah tangganya.

Kemarin secara global, pekerja migran atau orang bekerja diluar negaranya bakal menembus 250 juta jiwa tahun ini. Adapun remitansi mengalir ke negara asal diprediksi mencapai US$601 miliar. Sebesar US$44 miliar di antaranya mengalir ke negara berkembang.

“Tiga kali lebih besar ketimbang dana bantuan pembangunan, remitansi pekerja migran bakal menyokong hidup jutaan rumah tangga di negara berkembang. Sebagai tambahan, pekerja migran internasional juga mampu menyimpan lebih dari US$500 miliar per tahun,” kata Dilip Ratha, salah satu penulis factbook, dalam situs resmi Bank Dunia.

Tahun lalu, Amerika Serikat menjadi negara sumber remitansi terbesar, sekitar US$56 miliar. Diikuti Arab Saudi US$37 miliar, dan Rusia US$33 miliar. Adapun Indonesia berada di empat terbawah, sekitar US$4,1 miliar. Berdasarkan dokumen tersebut, arus migrasi antarnegara berkembang (south-south) lebih dominan ketimbang negara berkembang ke negara maju (south-north).

Pada 2013, migrasi selatan-selatan mencapai lebih dari 38% dari total migrasi internasional. Sedangkan migrasi selatan-utara hanya 34%. Pada periode itu, sepuluh negara tujuan migrasi adalah Amerika Serikat, Arab Saudi, Jerman, Rusia, Uni Emirat Arab. Kemudian, Inggris Raya, Prancis, Kanada, Spanyol, dan Australia.

Sayangnya, menurut peneliti dari Asia Research Institute Silvia Mila Arlini, para migran perempuan atau tenaga kerja indonesia cenderung mengirimkan lebih banyak uang kepada rumah tangga mereka. Berdasarkan jenis pekerjaan, migran perempuan yang bekerja di sektor domestik cenderung mengirimkan uang lebih banyak dibandingkan dengan tiga pekerjaan lainnya yang didominasi oleh laki-laki, misalnya di sektor pertanian, konstruksi, dan produksi.

Sebagian besar remitansi digunakan untuk mencukupi keperluan sehari-hari (35%) dan juga untuk biaya pendidikan dan keperluan anak-anak (26%). Tingginya penggunaan uang kiriman atau remitansi TKI untuk kepentingan sosial bukanlah hal yang mengejutkan karena itulah motivasi utama mereka bermigrasi untuk bekerja. Hanya ada sedikit rumah tangga yang menggunakan uang kiriman untuk investasi fisik seperti lahan pertanian, deposito bank, ternak, alat-alat pertanian maupun bisnis.

“Dalam hal ini, dapat ditunjukkan bahwa migrasi bisa berperan sebagai salah satu strategi penting untuk peningkatan kehidupan yang lebih baik, terutama bagi rakyat miskin,” kata Silvia.

Tiga Rekomendasi

Penelitian yang berangkat dari survei rumah tangga ini merekomendasikan beberapa hal agar bisa menjadi input atau masukan bagi pemerintah.

Pertama, mendukung diversifikasi pendapatan. Mila menyampaikan remitansi telah menjadi komponen penting dan besar bagi sumber pendapatan keluarga migran. Namun, saat migran kembali ke Tanah Air, remitansi tidak bisa lagi dijadikan andalan bagi sumber pendapatan keluarga. Penelitian menemukan, remintansi tidak diinvestasikan untuk modal agar pendapatan rumah tangga tidak terus bergantung pada uang kiriman.

“Untuk itu, migran dan keluarganya sebaiknya didorong untuk mengurangi ketergantungannya terhadap remitansi. Saat memiliki remitansi yang cukup besar, perlu didorong agar menginvestasikannya pada sektor ekonomi yang produktif,” jelas Silvia.

Untuk mendukung hal tersebut, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia pada 2015 melalui BNP2TKI yakni menjalankan program Pemberdayaan Terintegrasi bagi 15.000 TKI Purna dan keluarganya, TKI Bermasalah, serta WNI-Overstayers di sejumlah kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Kegiatan ini diselenggarakan guna mendukung program pemulangan TKI Bermasalah (TKI-B)/WNI Overstayers (WNI-O) agar dapat mengelola dan memanfaatkan uang hasil bekerja dari luar negeri untuk hal yang produktif sehingga mereka tetap dapat memperoleh penghasilan di dalam negeri,” ujar Direktur Pemberdayaan BNP2TKI, Arini Rahyuwati.

Dia mengatakan dalam Program Pemberdayaan Terintegrasi ini pemerintah juga turut menggandeng mitra industri, mitra lokal serta lembaga keuangan mikro guna memperkuat program tersebut.

Kedua, memfasilitasi migrasi yang aman. Migrasi bagi tenaga terampil maupun tidak terampil dapat menjadi salah satu jalan keluar dari masalah kemiskinan di perdesaan. Upaya untuk menghalangi migrasi dikhawatirkan hanya akan membatasi akses ke migrasi legal, sekaligus mengurangi kesempatan masyarakat miskin untuk memperbaiki status sosial ekonominya. Untuk memfasilitasi migrasi yang aman melalui jalur resmi, akses kredit mungkin dapat diupayakan, seperti melalui koperasi simpan pinjam atau pinjaman bank.

Ketiga adalah menggalakkan pendidikan yang lebih tinggi. Tidak dipungkiri, banyak migran berkeinginan agar anaknya dapat bekerja pada jenis pekerjaan dengan ketrampilan tinggi yang biasanya juga memerlukan standar pendidikan minimal cukup tinggi,” jelas Silvia. []

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional