Menu

NUSRON: Warga NTB Jangah Hanya Bermimpi Jadi Asisten Rumah Tangga

  Dibaca : 131 kali
NUSRON: Warga NTB Jangah Hanya Bermimpi Jadi Asisten Rumah Tangga

AnsorNe.com, LOMBOK TENGAH – Kepala BNP2TKI Nusron Wahid mengingatkan agar jangan hanya bermimpi menjadi TKI asisten rumah tangga. Bermimpilah bekerja pada sektor perawat, pariwisata ataupun manufaktur.

“TKI ke depannya mau tidak mau harus terampil. Harus bisa berbahasa Inggris dan mempunyai keahlian,” ujar Nusron saat Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri di STIKES Qamarul Huda, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (2/4/2016).

Dia mengatakan jumlah TKI NTB pada 2015 sebanyak 7,644 orang. Persentasi paling besar hampir 10% penduduk NTB bekerja di luar negeri. Sayangnya tenaga kerjanya belum terampil, masih banyak yang bekerja pada pekerjaan non formal dengan gaji yang masih kecil.

“Saya hadir di sini ingin mengajak warga NTB bermimpi tidak menjadi asisten rumah tangga dan pekerja di kebun sawit. Saya ingin masyarakat NTB bekerja pada sektor yang berbadan hukum yaitu sektor formal,” jelasnya.

Nusron mengatakan mengapa bekerja ke Luar Negeri, karena muncul setiap tahunnya angkatan kerja baru sebanyak 2,8 juta. Dari situlah awal mula migrasi mulai terjadi. Langkah melakukan migrasi ke luar negeri dengan mencari pekerjaan. Ini merupakan hukum alam mencari pendapatan dari yang lebih rendah menjadi lebih tinggi.

“Pemerintahan telah menutup sektor informal yaitu asisten rumah tangga ke luar negeri, sebagai gantinya pada sektor formal seperti perawat, cargiver, pariwisata, dan manufaktur. Pada sektor ini sisi perlindungan jauh lebih baik,” paparnya.

Ia mengatakan faktanya saat ini  ada sekitar 864.000 perawat di Indonesia,  dari jumlah tersebut perawat Indonesia yang sudah bekerja sekitar 264.000. Sedangkan setiap tahun ada permintaan perawat sekitar 16.000 orang  dari luar negeri.

“Saya meminta agar para lulusan perawat bisa berbahasa Inggris agar bisa mengisi peluang kerja luar negeri. Janganlah hanya bermimpi menjadi asisten rumah tangga yang umumnya bermasalah. Masalah paling banyak adalah dua yaitu bahasa Inggris dan Sertifikat bagi perawat,” tuturnya.

Nusron menambahkan, fakta membuktikan sekitar 58 persen TKI adalah lulusan SD dan SMP. Karenanya, ia mengimbau jangan sekali kali bermigrasi jika tidak bisa bahasa Inggris. Kalau tidak bisa pasti akan bermasalah.

Wakil Bupati Lombok Tengah, Fathul Bahri mengatakan mendukung pelaksanaan sosialisasi peluang kerja luar negeri dari BNP2TKI. “Ini ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, jangan pernah berangkat ke luar Negeri jika tidak siap. Mari kita mulai mengurangi segala persoalan atau masalah yang ada. Aktifitas semakin bagus karena Lombok Tengah  sebagai kantong TKI,” ujarnya.

Editor:
Tags
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional