Menu

LDNU : Ukhuwah Islamiyah Tidak Terputus Oleh Kematian

  Dibaca : 125 kali
LDNU : Ukhuwah Islamiyah Tidak Terputus Oleh Kematian

AnsorNews.com, JAKARTA – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) menggelar istighosah dan kajian ke-Aswajaan bulanan pada Rabu (28/09/2016) malam, pkl. 19.00 WIB, di Gedung PBNU, Lt. 08, Jl. Kramat No. 164, Senen Jakarta Pusat.

Acara ini diawali dengan pembacaan maulid Simtudurrar yang diimami oleh KH. Misbahul Munir selaku Wakil Ketua LDNU Bidang Dzikir dan Ta’lim, dilanjutkan dengan istighosah yang diimami oleh KH. Masthur Anwar selaku Sekretaris PWNU DKI Jakarta. Kemudian acara inti yang disampaikan oleh Al Habib Ahyad Banahsan.

“Istighosah ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Kesaktian Pancasila dan kajian Aswaja. Oleh karena itu, kami persiapkan ruangan khusus di lt. 8 agar para jamaah dan tokoh-tokoh yang kami undang bisa lebih khusu dalam berdzikir,” tutur KH. Masruhin Abdul Majid selaku Ketua LDNU sekaligus Ta’mir Masjid An-Nahdloh.

KH. Misbah Munir menyampaikan tausiah dalam kajian keaswajaan berkaitan dengan tradisi-tradisi keagamaan untuk mengukuhkan dan menguatkan kembali pemahaman agama di kalangan Nahdlatul Ulama, di antaranya tradisi kirim do’a, tahlilan, dan doa arwah.

Kiai Misbah mengajak para jamaah untuk mengkaji secara ilmiah dasar-dasar tradisi keagamaan kita. Dia mengatakan ada sekelompok orang yang mempersoalkan tradisi tahlilan. “Kalau memang tahlilan ada di zaman Nabi, ketika Nabi wafat apakah Abu Bakar tahlilan? Kalau memang tahlilan itu baik, ketika Abu Bakar meninggal apakah sahabat Umar tahlilan?”

Dia menilai kadang-kadang logika sejarah tentang tahlilan disederhanakan untuk menyesatkan umat. Padahal, menurut Kiai Misbah, esensi daripada tahlilan adalah mendoakan, mengirimkan pahala untuk si mayyit. Sesungguhnya, kata Kiai Misbah, ukhuwah islamiyah tidak terputus oleh sebab kematian.

Dia menjelaskan hal itu dengan mengutip surat Al Hasyr ayat 10 yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Menurut dia, ayat tersebut memerintahkan umat islam agar mendoakan orang yang telah wafat. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa ukhuwah islamiyah tidak terputus oleh sebab kematian.

Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang yang ditinggal mati agar mendoakan almarhum atau almarhumah, “Misalnya saya punya istri, saya masih hidup, saya masih hidup ini dianjurkan untuk membaca istighfar, dan mendoakannya.”

Di akhir tausiah, KH Misbah menyampaikan harapan jamaah agar terus menjaga tradisi Nahdlatul Ulama yang telah diajarkan oleh para ulama Aswaja.

Hadir dalam acara ini Al Habib Ahyad Banahsan dari Jakarta Timur, Dr. KH. Zaki Mubarrak, MA selaku Rais Syuriah PBNU, Drs. KH. Nurul Ishaq selaku Sekretaris LDNU, ustadz Sulhan, KH. Masthur Anwar selaku sekretaris PWNU DKI Jakarta, Utadzah Hj. Afifah, serta ratusan santri dari wilayah DKI.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional