Menu

Mensos Ajak Para Guru NU Utamakan Ajaran Aswaja

  Dibaca : 321 kali
Mensos Ajak Para Guru NU Utamakan Ajaran Aswaja

AnsorNews.com, MOJOKERTO Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengajak guru-guru NU menjadi juru bicara ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Itu disampaikan saat dia hadir di Kongres II Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), yang digelar di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur.

“Entah itu guru biologi, matematika, fisika maupun olahraga di sekolah-sekolah NU, mereka tidak boleh tidak tahu apa itu Aswaja,” kata Khofifah, Jumat (28/10).

Karena menjadi juru bicara penyampaian Aswaja, menurut beliau, di manapun para guru NU, terutama dosen dalam mendidik, harus diyakinkan bahwa muridnya paham dan melaksanakan ajaran. “Maka konsep at-tawazun (keseimbangan), at-tasamuh(toleran), at-tawasuth (moderat), al adala (lurus) maupun al istiqomah(konsisten) tak sekadar disampaikan.”

“Kalau sebagai pengajar yang penting materi disampaikan, tapi sebagai pendidik harus dipastikan setelah materi disampaikan muridnya harus paham. Setelah paham akan melaksanakan. Ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia hari ini dan yang akan datang. Ada kebhinekaan, hederogenitas atau keberagaman,” sambungnya.

Ada beberapa perbedaan antara guru NU dan bukan. Menurut Khofifah, guru di lingkungan NU bisa membangun harmonisasi equilibrium dynamic (keseimbangan yang dinamis). Sedangkan untuk mempersambungkan hedrogenitas, keberagaman dan kebhinekaan itu, membutuhkan suasana yang harmoni.

“Harmoni di lingkungan sosial kita harusnya terbangun di lingkungan institusi dan mestinya berangkat dari harmoni di lingkungan keluarga kita,” paparnya.

Pentingnya peran guru, kata Khofifah, ketika Hiroshima dan Nagasaki usai dibom pada tahun 1945. Hal pertama ditanyakan Kaisar Hirohito adalah apakah masih ada guru yang hidup.

“Nah, ketika sekarang kita melihat banyak kasus narkoba yang menggoda anak-anak kita, kemudian eksploitasi dan penelantaran anak, maka ada pertanyaan yang hampir mirip: Apakah masih ada Pergunu di Indonesia? Ini artinya begitu pentingnya kehadiran guru, apalagi guru NU,” ucapnya.

Maka itu, Khofifah menegaskan guru menjadi elemen NU luar biasa karena kekuatan pesantren dan madrasah berada di pundak mereka. Terutama menyiapkan anak didik dengan nilai-nilai pembelajaran dan pemahaman, termasuk pemaknaan secara lebih implementatif dari Aswaja.

“Kalau mereka memahami itu maka ada konsep moderasi, ada toleransi di dalamnya. Untuk Indonesia yang beragam dan heterogen, tentu tolerasi dan proses moderasi itu menjadi sangat penting karena akan membangun bagaimana sebenarnya NKRI lahir batin,” katanya.

Sehingga menurut Khofifah, ukuran kualitas anak bangsa tak hanya dilihat dari academic achievement (prestasi akademik) tapi juga kualitas proses membangun hidup yang harmoni. “Saya rasa itu akan menjadi revitalisasi di dalam Kongres II Pergunu kali ini dan mudah-mudahan bisa memberikan referensi produktif bagi seluruh peningkatan kualitas pendidikan serta guru di lingkungan NU,” tandasnya.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional