Menu

Keramat Rebo Wekasan

  Dibaca : 216 kali
Keramat Rebo Wekasan

AnsorNews.com, JAKARTA – Bulan Shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah Islam. Sebagaimana bulan lainnya, ia merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang tidak memiliki kehendak dan berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.

Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Tasa’um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).

Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir Allah.
Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah.

Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun, walaupun keseluruhannya kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah. Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda: “Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat”.

Maksud hadits laa thiyaarota atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan terhadap makhluk atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin. Dus, zaman atau masa tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu- waktu yang lain, ada takdir buruk dan takdir baik.

Empat hal sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas itulah yang ditiadakan oleh Rasulullah dan ini menunjukkan akan wajibnya bertawakal kepada Allah, memiliki tekad yang benar, agar orang yang kecewa tidak melemah di hadapkan pada perkara-perkara tersebut.

Bila seorang muslim pikirannya disibukkan dengan perkara-perkara tersebut, maka tidak terlepas dari dua keadaan. Pertama: menuruti perasaan sialnya itu dengan mendahulukan atau meresponsnya, maka ketika itu dia telah menggantungkan perbuatannya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya.

Kedua: tidak menuruti perasaan sial itu dengan melanjutkan aktivitasnya dan tidak memedulikan, tetapi dalam hatinya membayang perasaan gundah atau waswas. Meskipun ini lebih ringan dari yang pertama, tetapi seharusnya tidak menuruti perasaan itu sama sekali dan hendaknya bersandar hanya kepada Allah.

Penolakan akan ke empat hal di atas bukanlah menolak keberadaannya, karena kenyataanya hal itu memang ada. Sebenarnya yang ditolak adalah pengaruhnya. Allah-lah yang memberi pengaruh. Selama sebabnya adalah sesuatu yang dimaklumi, maka sebab itu adalah benar. Tapi bila sebabnya adalah sesuatu yang hanya ilusi, maka sebab tersebut salah.

Muktamar NU yang ketiga, menjawab pertanyaan “bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar” memilih pendapat yang tidak mempercayai hari naas dengan mengutip pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah berikut ini:

“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya, tidak berdasarkan hitung-hitungan dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa dari sahabat Ali kw. Adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).

Indikasi Kesialan dalam Quran dan Hadits
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya:’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (Q.S al-Qamar (54:18-20).

Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir) tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Orang Jawa pada umumnya menyebut Rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Hemat penulis, penafsiran ini hanya menunjukkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan Rabu pada Shafar dan tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah kesialan yang terus menerus.

Istilah hari naas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir juga terdapat dalam hadis nabi. Tersebut dalam Faidh al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda, “Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus).”
Hadits ini lahirnya bertentangan dengan hadits sahih riwayat Imam al-Bukhari sebagaimana disebut di atas. Jika dikompromikan pun maknanya adalah bahwa kesialan yang terus menerus itu hanya berlaku bagi yang mempercayai. Bukankah hari-hari itu pada dasarnya netral, mengandung kemungkinan baik dan jelek sesuai dengan ikhtiar perilaku manusia dan ditakdirkan Allah.

Bagaimana dengan pandangan Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur Fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur (penulis sendiri terus terang belum mengetahui dan meneliti kebenaran nama dan kitab ini, bahkan dalam beberapa tulisan kitab ini disebut dengan Kanzun Najah Was-Suraar Fi Fadhail Al-Azmina Wash-Shuhaar dan Kanju al-Najah wa al-Surur fi al-Adiyati al-Lati Tasrohu al-Sudur) yang menjelaskan: banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.
Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun.

Maka barangsiapa yang melakukan shalat 4 rakaat (nawafil, sunnah), di mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali; lalu setelah salammembaca do’a, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjag a orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.

Amalan Rebo Wekasan
Sholat sunnah 4 roka’at 2 salam di kerjakan pada malam rabu terakhir
dari bulan shofar.

CARA:
setiap roka’at ba’da Al-fatihah membaca:
-surat al-kautsar 17 X
-surat al-ikhlas 5 X
-surat al-falaq 1 X
-surat an-naas 1 X

NIAT: اصلى سنة الركعتين لله تعالى
“Ushollii sunnatan rok’ataini lillaahi ta’aalaa”.
(saya niat melakukan sholat sunnah dua roka’at karena alloh ta’ala).

DOA SETELAH SALAM:
بسم الله الرحمن الرحيم. ياشديد القوى وياشديد المحال ياعزيز يامن ذلت بعزتك يامحسن يامجمل يامتفضل يامنعم يامتكبر يامن لآإله إلا أنت إرحمني برحمتك يآأرحم الراحمين. اللهم بسر الحسن وأخيه وجده وأبيه وامه وبنيه إكفني شر هذا اليوم وشر ما فيه ياكافى المهمات يادافع البليات
فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم. وحسبنا الله ونعم الوكيل ولاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم

“BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM. YAA SYADIIDAL QUWAA WA YAA SYADIIDAL MIHAALI, YAA ‘AZIIZU YAA MAN DZALLAT BI’IZZATIKA, YAA MUHSIINU YAA MUJAMMILU YAA MUTAFADHDHILU YAA MUN’IMU YAA MUTAKBBIRU YAA MAN LAA ILAAHA ILLAA ANTA IRHAMNII BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROOHIMIN. ALLOOHUMMA BISIRRIL HASANI WA AKHIIHI WA JADDIHI WA ABIIHI WA UMMIHI WA BANIIHI IKFINII SYARRO HAADZAL YAUMI WA SYARRO MAA FIIHI, YAA KAAFIL MUHIMMAATI YAA DAAFI’AL BALIYYAATI FASAYAKFIKA HUMULLOOHU WA HUWAS SMAMII’UL ‘ALIIMU, WAHASBUNALLOOHU WANI’MAL WAKIILU WA LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIIM”.

Artinya :
Dengan menyebut nama alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang. Wahai dzat yang maha kuat lagi perkasa, wahai dzat yang maha mulia yang dengan kemuliaan-ny menundukkan seluruh makhluk, jauhkanlah hamba dari keburukan mereka, wahai dzat
sumbdr kebaikan, dzat yang indah, dzat yang paling utama, dzat pemberi nikmat,
dzat yang maha besar, dzat yang tiada tuhan selain engkau, kasihilah aku dengan
rahmat-mu wahai dzat maha pengasih di antara para pengasih. Ya alloh, dengan rahasia yang ada pada sayyid hasan,kakek, ayah,ibu,serta keturunannya jauhkanlah hamba dari keburukan hari ini dan keburukan yang ada di dalamnya, wahai dzat yang
mencukupi setiap kebutuhan dan mencegah dari segala bahaya. Alloh akan mencukupi kamu sekalian dan alloh Maha mengetahui lagi maha mendengar. Dia adalah sebaik-baik
dzat yang mencukupi dan menguasai, tiada daya dan kekuatan selain hanya dari Alloh
yang maha agung Lagi maha luhur. Dan semoga alloh memberikan rahmatnya kepada baginda nabi muhammad saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya.

AMIN……………

Beberapa amalan yang bisa dilakukan pada malam rabu wekasan (malam rabu terakhir dibulan safar):

1. Sholat Sunnah (Hajat, Mutlaq/Qiyamul lail) 4 atau 6 rakaat,
– 4 rakaat (2 salam) : Caranya, setelah fatekhah tiap rakaat membaca Al-Kautsar 17X, Al-ikhlas 5X, Al-Falaq 1X, dan An-Nas 1X
– 6 Rakaat (3 salam) : Caranya setelah fatekhah tiap rakaat membaca ayat kursi dan Al-ikhlas 1X.

2. Membaca Surat Yasin, pada ayat “Salamun Qoulan Min Rabbil Rahiim” dibaca sebanyak 313X kemudian baru dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai.

3. Meminum Air Salamun, dengan cara menulis ayat-ayat salamun yang terdapat dalam Al-qur’an di kertas kemudian dicelupkan dalam air dan diminum. (Pengajian Malam Selasa Krandon)
Yang terpenting niat kita dalam menjalani amalan-amalan tersebut adalah Lillahi Ta’ala (bukan karena niat lain dan kita tidak terlalu ekstrim dalam menerima sesuatu/ kelancipen). Sebagaimana contoh yang disampaikan KH. Sya’roni Ahmadi “jangan terus melakukan sholat tolak balak, itu salah (kelancipen), sholatnya ya sholat sunnah (hajjat atau yang lain)”.

Demikian ijazah dari beberapa kyai, semoga dengan amalan-amalan tersebut kita bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Amin.

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional