Menu

“Orang Tua” Sebuah Renungan

  Dibaca : 133 kali
“Orang Tua” Sebuah Renungan

AnsorNews.com,  SOLO – Allâh SWT telah menjadikan kedua orang tua sebagai sarana penyebab kehadiran kita dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menghargai karunia besar ini secara layak. Saat bergelimang kebahagiaan dan kesuksesan, tidakkah terbersit di dalam hati kita bahwa di masa lalu diri kita bukanlah apa-apa. Namun, kedua orang tua kitalah yang meraih tangan kita, membawa kita ke cakrawala kehidupan dengan penuh susah payah, tanpa seorang pun mengetahui selain Allâh. Ayah dan ibu kita terjaga di tengah malam agar kita dapat tidur dengan pulas, keduanya menangis agar kita dapat tertawa, keduanya rela kelaparan asal kita kenyang, dan keduanya sangat berbahagia dengan sekedar memeluk dan mencium kita.

Pada saatnya, usia juga yang membatasi kehebatan seorang ibu dalam mengasuh anaknya. Sang waktu memang tidak akan pernah dapat menghentikan kasih ibu, namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu juga harus melalui masa-masa yang belum pernah dibayangkannya selama ini. Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya pun tak lagi bertenaga. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri. Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan.

Semakin mendekati usia tua, manusia akan semakin merindukan masa lalu. Kenangan-kenangan masa silam datang silih berganti. Ia akan bermain di alam pikiran bagaikan kabut yang menyelimuti puncak pegunungan. Rasa sesal memenuhi dada atas hari-hari, di saat ia dalam keadaan sehat, ketika masih muda, penuh semangat dan kekuatan. Akan tetapi hari ini semua hanya tinggal kenangan dan penyesalan. Siapa gerangan yang mampu berbagi rasa dan menghiburnya?

Sering orang yang berusia lanjut duduk dikerumuni orang bertutur tentang masa lalu dengan segudang pengalaman hidup. Anak-anak muda mendengar dan hanya mengerti bahwa yang bertutur pernah hidup di masa lalu. Pernah hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan. Namun peristiwa itu sedikit pun tidak berarti bagi mereka. Berbeda bagi si penutur, ia merasa amat menderita lantaran bahwa orang-orang yang berkepentingan dengan kisah yang disampaikannya, generasi semasa dan teman-teman sejawat telah berpulang kerahmatullah dan pergi mendahuluinya, meninggalkannya sendirian di tengah-tengah kaum yang tidak peduli dengan dirinya, yang tidak peduli dengan bahasa dan kenangan masa lalunya.  Bahkan tidak jarang mereka menganggap pembicaraannya sebagai kisah usang yang tidak menarik untuk disimak.

Kita semua mengetahui bahwa setiap kali bertambah usia dan menua, maka akan semakin banyak kelemahan yang dialami manusia. Penyakit tua; tekanan darah tinggi, diabetes, punggung menjadi bongkok atau kulit mengeriput merupakan pemandangan yang tidak asing lagi baginya. Terkadang ia marah karena alasan sederhana, dan tersinggung oleh sikap yang wajar dalam ukuran normal. Ia akan semakin merepotkan orang lain dan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak penting, sehingga mungkin seorang anak merasa bosan tinggal bersama orang tua yang telah lanjut usia.

Seorang anak yang tidak memikiki iman yang kuat dan tidak memiliki cukup kesabaran, yang tidak memiliki kelembutan dan belas kasih yang besar, akan membentak orang tuanya yang tua, saat mereka mengajukan serentetan pertanyaan seperti tersebut di bawah ini:

“Siapa yang datang?”
“Apa yang sedang kalian obrolkan?”
“Mengapa kalian tidak mengajakku pergi?”
“Mengapa kau tidak berpamitan saat meninggalkan rumah?”
“Mengapa engkau tidak menceritakan permasalahanmu kepadaku dan justru meminta saran orang lain?”

Dahulu, di saat muda dan bertenaga, orang tua yang berjuang dan mengatur segalanya. Kini, saat lanjut usia dan tidak bertenaga, mereka merasa tidak berguna… merasa kehilangan fungsinya sebagai orang tua… Ia mendapati dirinya tidak berdaya untuk berbuat sesuatu… Kini ia menyimpan sejuta harapan pada anak-anaknya…

Marilah kita kembali mengenang kebesaran orang tua kita, agar kita tidak melupakan mereka hingga terperosok dalam neraka yang pedih siksanya. Mari kita renungkan pengorbanan mereka yang tanpa pamrih kepada kita buah hatinya.

 

Oleh Ust. Novel Bin Muhammad Alaydrus, SOLO

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional