Menu

Umam: Keluarga Ingin Mikul Dhuwur Mendem Jero Tan Malaka

  Dibaca : 266 kali
Umam: Keluarga Ingin Mikul Dhuwur Mendem Jero Tan Malaka

AnsorNews.com, JAKARTA – Ketua Tim Delegasi Penjemputan Jasad Tan Malaka Khotibul Umam Wiranu, segera memulai melangkah menemui Mensos Khofifah Indarparawansa untuk membahas rencana pemindahan makam Tan Malaka tersebut.

Politikus Partai Demokrat itu mengatakan, dalam waktu dekat bersama Tan Malaka Institut (TIM) dan YPP PDRI (Yayasan Peduli Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (YPP PDRI), akan mendampingi dirinya bertemuI Khofifah Indar Parawansa best site.

Umam mengaku dirinya ditunjuk menjadi ketua tim delegasi penjemputan jasad Tan Malaka oleh Pemerin­tah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Diakui Umam, pemindahan makam Tan Malaka dari Kabupaten Kediri ke Limapuluh Kota, Sumatera Barat sempat menuai polemik. Pemkab Kediri sebelumnya menyatakan keberatan. Namun keluarga Tan Malaka justru merasa sangat bersalah jika penguburan leluhur mereka tidak disempurnakan di tanah kelahiran sang revolusioner di Kabupaten Limapuluh Kota. Pihak keluarga ada perasaan merasa bersalah yang amat dalam jika tidak disempurnakan penguburan­nya atau dipindahkan ke tanah kelahiran beliau.

” Apalagi pen­guburannya belum memenuhi tata cara agama Islam, agama yang dianut Tan Malaka. Dan jangan lupa bahwa almarhum itu seorang yang hafal Alquran,” tutur Umam dihubungi di Jakarta, Sabtu (21/1).

Umam menyatakan ingin berbuat dengan niat menghormati Tan Malaka. Istilah dalam tradisi Jawa, ungkap anggota DPR dari Dapil Jateng itu, harus mikul dhuwur men­dem jero, artinya setiap anggota keluarga-suku-bangsa, harus menjunjung setinggi mung­kin nama baik keluarga-suku-bangsa maupun kelompok lain­nya, ” terang Umam.

“Sebagai anak, perlu bisa menjunjung tinggi derajat orang tua dan menutup segala kekeliruan dan kekurangannya,” ujar mantan Ketua PP GP Ansor ini.

Kalau ada yang lebih substantif dari upaya yang dilakukan ini, Umam mempersilakan saja dilakukan oleh siapa pun. ” Yang penting berbuatlah untuk menghormati para pendahulu kita,” kata Umam.

Tujuannya, lanjut Umam, bagaimana Tan Malaka dihargai dan dihormati serta diberikan hak-haknya sebagai Pahlawan Nasional Kemerdekaan dan Raja dari suatu adat. Dan daerah di mana Tan Malaka lahir, besar, seko­lah, mengaji, serta dewasa. “Itu juga mesti dapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat bangsa, apalagi daerah ini juga pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia sebagai penyelamat Republik.”

Setelah berdialog dengan pihak keluarga besar Ibrahim Datuk Tan Malaka, beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Di antaranya melihat kondisi makam yang selama ini tidak tera­wat dan keluarga merasa prihatin karena tidak ada yang memper­hatikan dan mengurusnya.

“Baru akhir-akhir ini semenjak wacana pemindahan terdengar oleh publik luas, semakin ban­yaklah yang menaruh perha­tian termasuk pemerintah ikut memperhatikan soal makam Tan Malaka.

Kemudian, semenjak hilangnya Tan Malaka tahun 1948, keluarga terus menerus berusaha mencari, dan sampai akhirnya ditemukan tahun 2007, berkat jasa seorang peneliti asal Belanda Harry Apusse.

“Upaya yang sungguh-sungguh dari pihak keluarga yang terus melakukan usaha pencarian ini harus kita hargai,” tandas Umam.

Selanjutnya, Tan Malaka selain sebagai Pahlawan Nasional Kemerdekaan adalah seorang Raja Adat Bungo Setangkai. Tentu saja ini menjadi penting bagi kaum atau rakyat di kelarasan Bungo Setangkai, di mana Datuk Tan Malaka sebagai Raja mem­bawahi 142 kaum atau Datuk di wilayah tersebut.
Dan selama ini proses adat mengantung, sebab Tan Malaka belum diketemukan makam­nya. Ini me­nyangkut marwah, kehormatan, harga diri kaum dan daerah Limapuluh Kota.

“Menurut saya orang Minangkabau secara luas dan secara agama penguburan Tan Malaka belum diselenggarakan secara syariat Islam sewaktu meninggal, kar­ena situasinya memang belum memungkinkan,” ulas Umam.

Dikatakan Umam, yang berhak dari jasad atau mayat Tan Makaka pertama-tama adalah keluarga dan kaumnya, artinya dengan ini keluarga lebih berhak.

“Keluarga memandang bahwa dibawa pulangnya Tan Malaka ke tanah kelahirannya akan mengakhiri perdebatan dan pertanyaan selama ini; di manakah Tan Malaka dikuburkan. Tentu memandang bahwa pemakaman kembali Tan Malajs banyak manfaat ketimbang mudharatnya,” tambah

Sumber: Suaramerdeka.com

Editor:
Tags
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional