Menu

Ketum Kiai Muda Indonesia: Langgar UU, Sebut Lailahaillallah sebagai Noda di Merah-Putih

  Dibaca : 143 kali
Ketum Kiai Muda Indonesia: Langgar UU, Sebut Lailahaillallah sebagai Noda di Merah-Putih
Ketua Umum Kiai Muda Indonesia Gus Wahyu NH Aly di Masjid An-Nahdah PBNU

AnsorNews.com, JAKARTA – Menyoal lafadz Lailahailallah di lambing negara, Ketua Umum Kiai Muda Indonesia, Gus Wahyu NH Aly mengaku prihatin dengan adanya pihak yang memberikan penyekatan buruk pada lafadz tersebut. Menurutnya, lafadz tersebut tidak bisa disebut menodai merah-putih. Menilai lafadz tersebut sebagai kotoran atau noda, dengan ungkapan menodai atau yang semakna, bisa tergolong melanggar undang-undang. Hal tersebut dikatakan di depan jamaah Ashabul Kahfi dalam kajian kitab Alhikam di Slipi, Jakarta seusai sholat Maghrib (24/01/2016).

Lebih lanjut dikatakan, menilai lafadz tersebut sebagai kotoran itu bisa masuk kategori menghina suatu agama tertentu. Lebih jauh dikatakan, bisa tergolong upaya penghasutan untuk terjadinya konflik horizontal. Dijelaskan juga olehnya, lafadz tersebut selain secara makna sesuai dengan Pancasila, juga dalam tinjauan historis memiliki peran kuat atas berdirinya NKRI.

“Itu kalimat inti dalam agama Islam. Lafadz tersebut juga memiliki peran sangat penting dalam perjuangan Indonesia. Menilai lafadz tersebut sebagai lafadz yang kotor atau noda, itu bisa tergolong menghina agama Islam,” katanya.

Cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini berharap agar semua pihak bisa menjaga diri dari nafsu buru-buru. Ia meminta agar semua pihak belajar bersikap arif. Dikatakan, problem hukum dan sosial di Indonesia, menurutnya seringkali terjadi yang hanya disebabkan oleh ketergesa-gesaan dalam memberikan penilaian pada suatu fenomena.

“Saya prihatin dengan bangsa ini. Baik pemerintah, aparat, ormas Islam, ormas yang mengaku nasionalis, maupun dari banyak tokoh politiknya. Setiap hari yang saya lihat lebih banyak menyuguhkan perilaku anti kebhinekatunggalikaan dan kegaduhan,” katanya.

Gus Wahyu menegaskan, kemiskinan dan kebodohan menurutnya sebagai sumber utama problem kebangsaan, namun dikatakan, masalah tersebut justru tidak disentuhnya. Ia berharap, di era pemerintahan presiden Jokowi ini agar tidak fokus pada pembangunan isu, namun lebih pada kerja nyata khususnya aspek membebaskan biaya pendidikan sekaligus tanpa pungutan apapun dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

“Jika beliau sebagai presiden yang jujur, pasti direalisasikan pendidikan gratis sampai perguruan tinggi. Kecuali beliau itu penipu. Tapi saya percaya, beliau presiden yang jujur, jadi pasti direalisasikan,” pungkasnya.

 

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional