Menu

Koleksi Seni Islam, dari Museum Louvre Paris hingga Jakarta

  Dibaca : 221 kali
Koleksi Seni Islam, dari Museum Louvre Paris hingga Jakarta

AnsorNews.com, JAKARTA – Koleksi seni Islam dapat menjadi medium untuk memahami Islam dan sejarahnya. Berbagai koleksi dari sejak awal hadirnya Nabi Muhammad hingga berabad-abad kemudian dapat menjadi pintu masuk menelusuri kekayaan peradaban Islam. Karya seni merentang dari peninggalan bersejarah hingga seni dekoratif.

Ungkapan itu mengawali percakapan dengan Yannick Lintz, kepala departemen seni Islam dari Museum Louvre, Paris, Perancis saat ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lintz datang ke Jakarta untuk menindaklanjuti rencana pembangunan museum seni Islam, yang akan dibangun Jakarta Islamic Centre, yang berlokasi di Jakarta Utara.

“Saya datang ke Jakarta untuk proyek Museum Seni Islam di Jakarta Utara. Kunjungan ini menindaklanjuti agenda pada September 2015 lalu, ketika pihak JIC Jakarta menemui saya di Louvre,” ungkapnya.

Delegasi JIC berencana membangun museum serupa yang berisi berbagai macam koleksi seni dan sejarah Islam. Di Louvre sendiri, menurut Lintz, departemen ini baru berdiri pada 2012. Ia kemudian ditunjuk menjabat sebagai kepala setahun setelahnya hingga sekarang.

Dari diskusi yang berlangsung antara dirinya dan delegasi JIC, diketahui bahwa akan lebih baik jika Lintz dapat berkunjung dan melihat langsung kondisi bangunan, dan rencana museum yang ada di Jakarta.

Departemen seni Islam

Museum Louvre, kata Lintz, merupakan museum terbesar dunia, dan koleksi seni Islam salah satu koleksi penting yang ada di dalamnya. Ada sekitar ribuan koleksi yang dipamerkan di ruang baru dengan luas sekitar 3000 meter square.

Koleksi tersebut tidak hanya objek tunggal tapi juga disertai dengan cerita narasi, dan disusun secara kronologis dan geografis. “Koleksi kami memiliki keberagaman objek yang berasal dari Mesir, Suriah, Spanyol, India, dan koleksi besar dari Iran.”

Hingga saat ini, kata Lintz, koleksi masih didominasi negara-negara Timur Tengah, dan belum ada yang berasal dari Asia, atau Asia Tenggara. Koleksi dari Asia yang ada di Louvre, kata dia, tersimpan dalam koleksi museum khusus Asiatic, bukan di departemen seni islam. Koleksi yang dipamerkan merentang dari awal Islam lahir hingga abad ke-19.

“Bagi kami, di Barat, Islam berarti Timur Tengah atau Arab,” ujarnya.

Namun, kemudian disadari bahwa Islam tidak hanya dari Arab, tapi juga ditemukan di Iran dan India. Asia Tenggara, kata dia, belum dianggap sebagai sumbernya.

Keberadaan koleksi seni Islam di Louvre, kata Lintz bukanlah gagasan baru beberapa tahun, melainkan sudah ada sejak lama. Gagasan ini, diyakini muncul sejak 1993 ketika dibukanya sesi seni Islam di Louvre. Saat itu, koleksi yang ada didominasi seni dekoratif mewakili Islam.

Gagasan ini kembali diseriusi pada 2003, ketika Presiden Perancis kala itu, Jacques Chirac mengungkapkan rencana serupa degan membuat museum seni Islam di Louvre.
Ketika departemen seni Islam dibuka pada 2012, skalanya menjadi lebih besar. Awalnya, diakui Lintz sebagai proyek yang bersifat politis.

“Penting bangun pengetahuan akan Islam, mengingat museum sebagai tempat memperoleh pendidikan dan pengetahuan,” ujarnya.

Louvre sebagai museum universal, memuat sejarah dan budaya Islam, termasuk masa-masa keemasannya di masa silam. Warisan peninggalan Islam merupakan bagian dari budaya universal dengan kekayaan intelektual, serta pengetahuan karya seni bernilai tinggi.

Museum seni Islam di Jakarta

Lintz menyampaikan, museum seni Islam yang direncanakan JIC akan berbeda bentuknya dari koleksi seni Islam Louvre. Selain karena koleksinya, juga ditujukan untuk publik yang berbeda.

Rencana museum di Jakarta, kata dia, dibangun di lahan seluas sekitar 1.000 meter square. Pihak JIC memiliki koleksi sejarah dan seni Islam. Lintz dimintai masukan bagaimana membuatnya berkisah atau disampaikan lewat penceritaan yang mudah dimengerti.

“Ada dua kemungkinan [kerja sama antara Louvre dan JIC], yakni pemberian pinjaman jangka panjang, dan atau memiliki kopian dari koleksi,” ujarnya.

Lintz lalu menambahkan, selain menyertai koleksi dengan cerita narasi, ia mendorong adanya pemanfaatan teknologi baru atau digital yang menambah nilai dan memudahkan publik atau pengunjung memahami koleksi yang dipamerkan.

“Kerja sama ini dibangun bertahap, ini baru kunjungan pertama saya, dan mungkin baru tahun depan mereka menyesuaikan bujet lalu merealisasikan setelahnya,” ujar dia.

Jakarta Islamic Centre

Ditemui secara terpisah, Kiai Ahmad Sobri, Kepala Jakarta Islamic Center (JIC) membenarkan adanya rencana pembangunan museum seni Islam.

“Gedungnya sudah ada tinggal tunggu anggaran, rencananya dibuka 2018,” ujarnya lugas saat ditemui di IFI Thamrin, Jakarta. Gedung Jakarta Islamic Center sendiri berada di Tugu Utara Koja, Jakarta Utara.

Menurut dia, bangunan museum sudah ada dari era Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, akan tetapi baru dapat diwujudkan tahun ini. “Museum ini tentang kebudayaan dan peradaban muslim, serta bagaimana Islam di Indonesia, ini yang akan kami ceritakan,” ungkapnya.

Sebelum gagasan ini direalisasikan, Ahmad mengatakan pihak delegasi JIC pernah bertemu Lintz di Paris beberapa waktu lalu. Selain berkunjung ke museum ternama di Paris itu, JIC juga sempat berkeliling Eropa yang diyakini memiliki koleksi dan sejumlah rekam jejak Islam lebih besar dari Indonesia.

“Saya melihat Museum Louvre, dan menemukan yang tidak ada di Indonesia ternyata ada di Paris, seperti kitab kuno, cerita tentang nabi Muhammad, dan kitab Alquran asli, ada di sana,” papar dia.

Dari pengamatannya, Louvre juga memiliki koleksi yang beragam dari sejarah Islam, termasuk cerita perjuangan Islam masa silam. Selain di Paris, ia juga melihat koleksi yang mengesankan di Turki.

“Baju yang dipakai sahabat Nabi, dan pernah di pakai Nabi Muhammad ada di sana, sangat mengesankan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, museum seni Islam di JIC sedang dalam tahap penyetujuan anggaran untuk diisi oleh sejumlah koleksi. Jika pemerintah daerah menyetujui proposal yang mereka ajukan, maka koleksi ini kemudian akan dapat dipamerkan.

Adapun koleksinya, lanjut Ahmad, berasal dari sejumlah negara Islam, dan juga ada yang dari Leiden, Belanda. Menurut dia, ada lima manuskrip dari Leiden yang akan diproses digitalisasi. Lalu, ada mimbar tua, miniatur masjid-masjid, dan mazhab Al-quran.

Beberapa koleksi dari museum luar negeri, kata dia, akan mengalami proses digitalisasi terlebih dahulu, termasuk koleksi yang memuat perjuangan Nabi Muhammad dan peninggalannya.

“Harapannya, pengunjung dapat melihat museum ini sebagai gambaran miniatur Islam yang memuat sejarah dan dunia Islam, lewat objek yang disertai audio visual,” ujarnya.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional