Menu

Ridwan Kamil Terima Penghargaan Tokoh Penggerak Pluralisme

  Dibaca : 293 kali
Ridwan Kamil Terima Penghargaan Tokoh Penggerak Pluralisme

AnsorNews.com, BANDUNG – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil baru-baru ini menerbitkan surat edaran tentang perlunya pelaksanaan gerakan salat subuh berjemaah untuk meningkatkan pelaksanaan ibadah dan ukhuwah Islamiyah guna membentuk kebersemaan dan kepribadian yang berakhlakul kharimah.

Surat bernomor 451/SE.001-Bag. Kesra&Kemasy itu ditujukan kepada para camat, lurah, ketua RW, RT, para ketua dewan kerohanian masjid serta organisasi keagamaan dan kemasyarakatan serta warta Kota Bandung.

Gerakan ini ditujukan pada warga yang beragama Islam, sementara warga non muslim diminta menyesuaikan. Selain itu, dia meminta agar seluruh warga menggerakaan dan melibatkan keluarganya dalam kegiatan tersebut. Selain itu, camat dan lurah bersama unsur kantor urusan agama serta lembaga kemasyarakatan memonitor, memantau, dan mengimbau masyarakat di wilayahnya masing-masing untuk melakukan kegiatan tersebut.

Harold Aaron dari Lembaga Bantuan Hukum Bandung mengkritisi penerbitan surat edaran tersebut. Seharusnya, ungkap dia, kegiatan keagamaan merupakan ranah privat warga negara yang tidak perlu dimasuki oleh negara. “Dikhawatirkan surat edaran tadi akan menjadi contoh atau ditiru daerah lain, akan menjadi alat untuk memberi stigma moral kepada kelompok masyarakat yang tidak terlibat, juga dikhawatirkan akan menjadi alat pemaksaan oleh elemen masyarakat tertentu,” tegas Harold.

Sementara itu, para aktivis muda kristiani mengapresiasi langkah-langkah walikota dengan memberinya penghargaan sebagai tokoh Penggerak Pluralisme. Penghargaan diberikan oleh Maruarar Sirait pada acara Natal Pemuda-Pemudi Kristen Bandung Raya di Dago, Bandung, Sabtu, 28 Januari 2017.

Acara yang digelar Paguyuban Pemuda Kristen Bandung Raya ini diikuti ratusan anak muda dari berbagai komunitas seperti Huria Kristen Batak Protestan (HKBP),Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Bethel Indonesia (GBI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gereja Kristen Pasundan (GKPs), dan perwakilan GP Ansor.

“Keberagaman dan kebhinekaan adalah hal yang indah. Gerakan intoleransi saat sangat marak terjadi. Kita miris melihat gerakan intoleransi merebak dan bisa memecah-belah kita bersama. Oleh karena itu kita laksanakan acara ini karena kita cinta akan gerakan toleransi di Kota Bandung,” ujar Ketua panitia, Theo Cosner Tambunan.

Dalam orasinya saat membuka acara tersebut, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, sejak awal Kota Bandung didesain untuk menjadi tujuan wisata yang terbuka bagi siapa saja sehingga menjadi kota yang sangat beragam.

“Maka kalau ada orang yang ingin menyeragamkan Indonesia ini dengan paksaan, itu sudah melawan narasi sejarah. Nggak boleh ada pemaksaan untuk menyeragamkan urusan hidup kita,” tutur Ridwan.

Ia pun meyakini bahwa saat ini warga Bandung pun adalah masyarakat yang santun dan sangat toleran. Maka pada saat ada peristiwa intoleransi di Kota Bandung, itu terjadi karena oknum tertentu yang tidak merepresentasikan warga Bandung sendiri.

“Jadi jangan menggeneralisasikan bahwa orang Bandung semuanya begitu. Saya percaya, mayoritas warga Bandung sangat santun dan toleran,” tegasnya merujuk pada kejadian pembatalan Kebaktian Kebangunan Rohani pada awal Desember 2016 lalu.

Pemerintah Kota Bandung, ungkap Ridwan, dalam lima tahun terakhir memberikan izin pendirian bagi 300 rumah ibadah non muslim. Dia mengklaim pemberian izin itu yang terbesar di Indonesia. “Artinya ada 60 bangunan ibadah per tahun kami izinkan,” terang Ridwan.

Sementara jumlah masjid di Kota Bandung diperkirakan mencapai empat ribu unit. Tempat ibadah yang tersebar di 31 kecamatan ini untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 juta jiwa.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional