Menu

Dinamika Hadramaut: Pelajar Indonesia dan Sosio-Kulturalnya

  Dibaca : 576 kali
Dinamika Hadramaut: Pelajar Indonesia dan Sosio-Kulturalnya
Gedung kampus Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff di kota Tarim, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. (Sumber Foto: Cahpulokulon/ Faizin/Brebes)

Oleh: Munandar Harits Wicaksono

(Mahasiswa Al-Ahqaff Hadramaut Yaman dan Dept. Infokom PPI Hadramaut)

Ada sebuah catatan yang menarik bagi saya ketika membaca laporan pertanggungjawaban PPI Yaman masa bakti 2015-2016. Yaman, sebuah negara miskin, wilayah konflik dan tidak stabil dengan sistem pemerintahan yang jauh dari kata sempurna di penghujung selatan jazirah Arabia ternyata memiliki jumlah pelajar Indonesia terbanyak di luar negri setelah Mesir. Mengherankan bukan? Mungkin, antara iya dan tidak.

Mengherankan, bisa jadi. Melihat lamanya durasi serangan koalisi liga Arab atas para pemberontak presiden Abdurrobuh yang hampir mencapai usia anak belajar menyebutkan kata mama, papa dan lala. Dan dengan segala kekurangannya –kelangkaan BBM, air dan listrik ternyata tidak sedikit pelajar Indonesia yang masih bertahan melanjutkan studi mereka di negara ini.

Tercatat, sampai saat ini jumlah pelajar Indonesia di Yaman mencapai lebih dari 1000 orang. Jumlah yang hampir keseluruhannya berdomisili di provinsi Hadramaut. Memang, konflik yang tidak sampai merembet ke provinsi ini (selain kota Aden) sepertinya mampu membuat jumlah sebesar ini masih bertahan sampai sekarang. Pelajar Indonesia masih dengan mudahnya dapat ditemui di lalu lintas jalan tanpa lampu merah, di masjid-masjid kuno, hingga di rumah-rumah syeh dalam rangka kajian studi Islam.

Jumlah 1000 pelajar ini seharusnya bisa lebih banyak andai hari itu tidak terjadi. Serangan membabi buta koalisi liga Arab memaksa PPI Yaman yang pada awal mulanya melakukan fungsi koordinasi antara 6 dewan presidium PPI wilayah harus kehilangan hampir seluruh wilayahnya. Ucapan terimakasih tetap diberikan kepada pemerintah republik Indonesia yang melakukan evakuasi secara terus menerus meskipun mengakibatkan bubarnya PPI wilayah yang sudah tidak ditinggali pelajar Indonesia.

Sempat muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya sendiri atas lebih dari 1000 pelajar Indonesia melanjutkan studi mereka di provinsi Hadramaut dengan ragam lembaga pendidikan. Padahal, secara formal lembaga-lembaga pendidikan modern baru muncul di sini pada abad keduapuluh. Jangan bandingkan dengan kemegahan Al-Azhar Asy-syarif yang sudah menghasilkan cendikiawan dan ilmuan muslim ternama semenjak dinasti Fatimiyah. Jangan pula bandingkan dengan berbagai universitas-universitas tua dan ternama di Eropa, Amerika hingga seluruh dunia. Hadhramaut lain daripada itu.

Sebuah pertanyaan, pada akhirnya terjawab lewat hari-hari panjang saya sambil menghitung tanggal. Madrasah dan sistem pendidikan Hadramaut ternyata bukan berasal dari bentuk lembaga formal dan modern. Tapi ia tumbuh, ia berkembang lewat kultur yang tertanam erat di dalam lingkungan sosialnya.  Abdurramman bin Musa, salah seorang dosen saya pernah mengatakan “Al-insanu ibnu biatih”. Sesungguhnya manusia merupakan produk dari lingkungan yang telah membesarkannya. Kita tidak bisa ingkar apa lagi menuduh hipokrit perkataan tersebut. Bahkan dalam sebuah fabel dongeng lama, seekor anak serigala merasa merupakan bagian dari anak domba saat ia tumbuh bersama mereka.

Kultur dan lingkungan Hadramautlah yang memberikan penawaran sebagai nilai lebihnya. Masyarakat Hadorim –sebutan untuk mereka, sejak dahulu telah melakukan totalitas dalam menjalankan aturan agama Islam hingga pada akhirnya menjadi sebuah tradisi yang sukar sekali untuk dirubah.

Mahdzab Syafii, mahdzab fikih yang mayoritas diikuti oleh umat muslim Indonesia, benar-benar tumbuh berkembang di dalam tubuh masyarakat. Pendapat-pendapat yang mu’tamad –yang dianggap paling kuat dalam mahdzab Syafii digunakan tanpa banyak perselisihan. Bahkan, di kota Tarim dikenal sebuah masjid kuno bernama masjid Ba Alawi yang sama sekali tidak melakukan sesuatu ibadah yang masih diperselisihkan di dalamnya.

Cadar, sebagaimana pendapat mu’tamad mahdzab Syafii benar-benar menjadi sebuah keharusan bagi wanita-wanita yang sudah dewasa. Peran dan kedudukan wanita di dalam masyarakatpun, tidak menonjol agar tidak ada kekhawatiran terjadi fitnah. Tidak ada ihtilath –campur baur antara lawan jenis. Bukan berarti masyarakat Hadramaut tidak mengakui HAM wamita atau menganggap rendah mereka, sekali lagi bukan. Namun hal semacam ini sudah mengakar kuat dari dalam tradisi mereka tanpa ada satupun yang mempermasalahkan.

Satu yang menarik dalam kultural ajaran agama Islam Hadramaut adalah suatu saat ketika saya berada di masjid, saya melihat sebuah pemandangan yang membuat saya cukup lama tertegun. Jika pada umumnya kita melihat anak-anak ramai dan berisik di tempat ibadah, apa yang saya lihat adalah antitesisnya. Eh, bukan lagi antitesis, tapi hiperantitesis. Saya melihat seorang ayah yang menyetorkan bacaan hafalan kitab sucinya pada anaknya yang masih di bawah lima tahun. Suatu pemandangan yang tidak lazim bagi saya.

Keistimewaan kultural lain yang menjadi tawaran konseptual madrasah pemikiran Hadramaut adalah homogennya pandangan keagamaan tersebut sebagaimana yang telah sedikit kami bahas. Tidak banyak perbedaan pendapat. Hampir seluruh penduduknya bermahzab fikih Syafii. Sebenarnya, tidak ada larangan untuk heterogen dalam mahzab fikih. Tidak ada larangan bermahzab fikih selain mahdzab Syafii di Hadramaut. Hanya saja jika mahdzab lain tersebar luas, maka Hadramaut sebagai satu-satunya daerah yang secara totalitas mengajarkan, mempelajari dan mengamalkan pandangan mahzab Syafii akan sama seperti wilayah lain yang memiliki kebudayaan heterogen dalam bermahdzab.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa menutup diri dari pandangan mahdzab lain dalam sebuah lingkungan homogen seperti di Hadramaut adalah sesuatu yang sebenarnya tidak baik. Akan tetapi sangat perlu digaris bawahi bahwa dalam budaya dialog terbuka, diperlukan sebuah dasar pamikiran yang kuat agar kiranya tidak menjadi individu yang plin-plan dan tidak memiliki pendirian.

Seperti Imam Muhammad Bin Idris Asy-syafii, sebelum ia memulai dialog dengan tokoh-tokoh madrasah hadits di Madinah dan madrasah pemikiran di Kufah, beliau lebih dahulu memiliki dasar yang kuat dalam hafalan Al-quran, hingga mempelajari fasahah dan balaghoh bahasa Arab secara langsung ke suku baduwi Hudzail di pedalaman jazirah Arab.

Seperti sangat menjanjikan, memang. Tapi apapun itu, sebenarnya semua kembali pada setiap individu 1000 pelajar Indonesia tadi. Apakah ia tidak menyadari lingkungannya, lalu justru berhenti di titik homogen tersebut. Di mana mereka pada akhirnya menjadi manusia yang tidak moderat dalam budaya dialog terbuka yang akan mereka hadapi dalam kultural masyarakat Indonesia. Atau justru sebaliknya, ia mentas dan menyadari dengan sesungguhnya bahwa ia saat ini sebuah produk homogen dan perlu untuk lebih banyak belajar terbuka.

Lazimnya, jumlah pelajar yang sedemikian besarnya di Hadramaut dalam beberapa kurun waktu terakhir ini mendapatkan ekpektasi, harapan dan cita-cita yang tinggi untuk memberikan sumbangsih kepada negara Indonesia dari segala bidang kehidupan. Dan pada ahirnya semoga selalu hidup harapan terlahirnya bibit-bibit Buya Hamka baru dari Yaman. Semoga saja.

Gedung Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff di Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. (Sumber Foto: Cahpulokulon)

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional