Menu

Ini Kepala Sekolah Ideal Menurut Dr. Supangat

  Dibaca : 324 kali
Ini Kepala Sekolah Ideal Menurut Dr. Supangat

AnsorNews.com, TANGERANG SELATAN — Ada kalimat yang sering kita dengar pada bulan-bulan ini, disaat banyak para orang tua yang mencari sekolah buat putra putri mereka. Jika anda sedang mencari sekolah yang baik, maka paksakan diri untuk bertemu dengan kepala sekoah dan ajaklah ngobrol tentang pendidikan, jika Anda tidak puas maka jangan sekolahkan Ananda (red: anak Anda) di lembaga tersebut. Hal tersebut, seperti yang diuangkapkan oleh Dr. Supangat Rohani, MA., Direktur Perguruan Al-Syukro Universal, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (22/2).

Menurut Supangat, artinya kepala sekolah penentu nasib sekolah. Karena selalu (red: minimal biasanya), kepala sekolah adalah guru terbaik di sekolah tersebut. Dengan demikian, maka dalam mengelola lembaga pendidikan, kepala sekolah atau pemimpin/manajer harus bisa menunjukkan kualitas dirinya. Yang dibuktikan dengan mampu menjalankan roda lembaga pendidikan/sekolah dengan baik dan profesional.

“Sebagai pimpinan lembaga khususnya kepala sekolah, fungsi dan perannya dalam manajemen sekolah sangat penting. Selain, karena pimpinan tertinggi, juga karena perannya sangat setrategis sebagaimana yang diungkap oleh Roland (1990) tentang sosok Kepala Sekolah,” ungkap Supangat, yang juga merupakan Ketua Agupena DKI Jaya (Asosiasi Guru Penulis Indonesia DKI Jaya).

Supangat menambahkan, apa yang diungkap oleh Roland. Pertama, Kepala sekolah adalah kunci dari sekolah yang baik. Kedua, Kepala sekolah adalah cermin kualitas guru. Ketiga, Kepala sekolah adalah penentu lingkungan pembelajaran di sekolah dan Keempat, Jika ingin melihat sekolah yang baik, lihatlah kepala sekolahnya.

Karena pentingnya peran kepala sekolah tersebut, maka lembaga pendidikan baik berstatus swasta termasuk pemerintah, harus serius dalam menentukan siapa yang akan memimpin sekolahnya. Untuk itulah, diperlukan adanya seleksi dan persyaratan yang ketat. Sesuai dengan visi dan misi lembaga. Sehingga tidak menyesal jika sudah memutuskannya.

“Namun, memang harus diakui, memilih calon pemimpin atau kepala sekolah tidaklah gampang. Lembaga pasti memiliki banyak pertimbangan. Di antaranya ialah pengalaman, pengetahuan, leadership, kreatifitas, kemampuan memotivasi, keluangan waktunya, kesiapan bekerja dalam tekanan, kemampuan komunikasi, mampu sebagai model bagi para guru (tenaga pendidik) dan karyawan (tenaga kepedidikan), dan seterusnya,” tambah Supangat, yang merupakan alumni Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (UPI Bandung).

Supangat menambahkan, jika dirangkum lebih singkat, sebenarnya dalam memilih kepala sekolah hanya membutuhkan minimal dua kajian penting. Yaitu Senioritas dan Kualitas. Senioritas, artinya guru yang telah lama mengabdi di lembaga tersebut, yang sudah diakui loyalitasnya dan mengerti dengan baik bagaimana visi dan misi lembaga. Dan Kualitas, maksudnya guru yang memiliki kualifikasi sesuai dengan harapan dari visi dan misi lembaga walaupun mungkin masih yunior (baru).

Jika dirumuskan dalam paradigma quadrant kepala sekolah sebagai berikut:

Supangat menjelaskan, bahwa dalam quadrant di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut: Level Pertama, adalah seseorang/guru yang rendah loyalitas dan juga lemah kualitasnya. Jika sekolah menghadapi kader yang seperti ini, biasanya lembaga belum menjadikannya kepala sekolah difinitif, namum masih pejabat sementara (Pjs) .

Level Kedua, guru yang memiliki loyalitas tinggi, karena terbukti sudah lima tahun lebih di lembaga tersebut. Namun kualitas yang mendukung untuk ketercapaian visi dan misi masih rendah.

Level Ketiga, memang guru ini masih baru bergabung atau rendah loyalitasnya. Namun kualitas dirinya yang sesuai dengan visi dan misi lembaga sangat bisa diandalkan.

Level Keempat, ketika lembaga menemukan sosok yang tinggi loyalitas, karena sudah senior dan memiliki kualitas diri yang sangat baik.

Supangat melanjutkan penjelasannya, bahwa jika kita sudah memapping calon kepala sekolah atau pimpinan lainnya, seperti dalam quadrant di atas. Maka, bagaiamana mensikapinya? Tentu, jawabannya dikelompokkan menjadi empat juga.

Pertama, rendah loyalitas dan kualitas, maka lembaga harus menguatkannya dengan program intrapersonal. Yaitu program yang fokus pada diri sang kepala sekolah, seperti training dan seterusnya.

Jika masalahnya adala yang kedua, yaitu tinggi loyalitas namun rendah kualitas. Maka pahamkan akan visi dan misi lembaga, dan pelatihan yang meningkatakan kualitas pengetahuan leadershipnya.

Sedangkan jika kondisinya rendah loyalitas namun tinggi kualitas. Maka kuatkan kemampuan interpersonalnya. Karena sosok ini, butuh dukungan dari para senior. Akan menjadi nyaman jika kondisi pimpinan sekolah sudah merupaka sosok yang tinggi loyalitas dan kualitas, Insya-Allah yayasan atau lembaga tidak akan perlu merasakan kekawatiran. Sehingga yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan leadershipnya, dalam bahasa quadrant dapat digambarkan sebagai berikut:

“Demikianlah prihal mencari Kepala Sekolah ideal dan profesional. Sehingga, dengan terpilihnya Kepala Sekolah yang ideal dan profesional, apa yang menjadi tujuan pendidikan bisa tercapai,” pungkas Supangat, sembari menutup perbincangan dengan Inspirasibangsa.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional