Menu

Karomah KH. Makhrus Ali Lirboyo Ketika Menghentikan Hujan

  Dibaca : 267 kali
Karomah KH. Makhrus Ali Lirboyo Ketika Menghentikan Hujan

AnsorNews.com, JAKARTA – Mentari pagi itu bersinar cukup bersemangat dan cerah.  Sinar hangatnya menembus gumpalan awan yang menyingsing di atas langit kota Kediri. Suara huruk-pikuk pengendara motor dan sepeda yang berlalu lalang di jalan raya Bandar kota Kediri seakan ikut menghangatkan suasana waktu setempat. Berduyun-duyun ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo  Memadati halaman gedung Universitas Tri Bhakti (UIT) untuk mempersiapkan dan mengikuti perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh pengasuh dan pengurus Ponpes Lirboyo dalam rangka peresmian Universitas Tri Bhakti. Tak selang lama, para tamu undangan baik dari kalangan pejabat,  pemerintah, dan ulama pun satu-persatu berdatangan untuk menjadi saksi momentum tersebut. Bahkan, rencananya Menteri Agama pada era presiden Soeharto saat itu, H. Alamsyah Ratu Perwira Negara juga akan ikut andil dalam peresmian UIT tersebut.

Akan tetapi,  ketika iring-iringan Menteri Agama akan dijadwalkan datang, dan para santri serta ratusan BANSER telah membentuk pagar betis dalam rangka menyambut tamu kehormatan tersebut.  Tiba-tiba langit cerah kota Kediri dipadati awan gelap yang pekat. Tak selang lama, Hujan pun turun dengan deras dan membuat panitia serta tamu undangan kebingungan dan panik.

Lain halnya dengan K.H. Makhrus Ali (pengasuh Pon-Pes Lirboyo),  beliau dengan tenang memecah kepanikan para hadirin dengan naik di atas podium. Dengan pandangannya yang tajam,  dan kharismanya yang menyejukkan, ulama kharismatik kelahiran Cirebon 26 Mei 1906 itu dawuh; “para santri dan semua tamu undangan harap tetap tenang, mari kita angakat tangan dan memohon kepada Allah agar hujan ini dihentikan”, pintanya. Setelah K.H. Makhrus Ali berdoa sejenak,  belum ada 2 menit,  hujanpun berhenti.  Langit yang semula gelap,  perlahan-lahan menjadi terang benderang.

Setelah beberapa saat, para hadirinpun terpana dengan kejadian “ganjil”  yang di luar kebiasaan tersebut.  Tamu undanganpun ada yang berbisik “wah hujan langsung berhenti ketika kyai Makhrus berdoa!  Inikah yang dinamakan karomah”  jelasnya pada tamu undangan yang lain.  Tak selang lama,  rombongan menteri Agamapun datang, dan acara peresmian UIT pun digelar.  Kurang lebih 1 jam prosesi itu berlangsung,  dan dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan musholla kampus.  Usai acara persmian yang ditutup dengan shalawat nabi,  rombongan kementrianpun bertolak kembali ke balai kota Kediri. Anehnya,  belum sempat kaki para hadirin berpindah,  hujan deras tiba-tiba datang lagi dan mengguyur basah kota Kediri.

Itulah salah satu bukti keampuhan ulama-ulama NU.  KH. Makhrus Ali dalah kyai kharismatik yang aktif bergerilya dan memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia dan kedaulatan Nahdlotul Ulama.  Beliau ikut dalam barisan Sabilillah,  dan bersama para santrinya kyai Makhrus juga ikut berjuang dalam pertempuran 10 november 1945, yang kemudian hari itu dikenal dengan “hari pahlawan nasional”. Kita sebagai bagian dari kader pemuda Ansor tentunya sangat tersanjung memiliki ulama-ulama yang cukup membanggakan dan menjadi suri tauladan seperti kyai Makhrus tersebut.

Ditulis oleh: Saiful Mujab (Berdasarkan informasi dan cerita dari K.H Anwar Iskandar/gus War-Kediri)

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional