Menu

Sistem Industri 4.0 Kurangi Biaya Produksi 15 Persen

  Dibaca : 111 kali
Sistem Industri 4.0 Kurangi Biaya Produksi 15 Persen

AnsorNews.com, JAKARTA –  Sistem Industri 4.0 Kurangi Biaya Produksi 15 PersenSistem industri 4.0 dinilai dapat memberi keuntungan bagi sektor manufaktur, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi sebesar 12-15 persen. Untuk itu, industri perlu menerapkan kegiatan di bidang penelitian dan pengembangan yang mampu mengintegrasikan dunia online dan lini produksi dengan memanfaatkan internet sebagai penopang utamanya.

“Pengembangan R&D ke depan diarahkan pada upaya agar industri nasional aktif melakukan inovasi teknologi guna mentransformasikan dan mengimplementasikan sistem industri 4.0 dalam proses produksinya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pelantikan Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian serta Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) di Jakarta, Senin (19/6).

Menurut Menperin, pihaknya telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia mampu menghadapi era revolusi industri keempat tersebut. Pertama, mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.

“Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Langkah kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era industri 4.0,” imbuhnya.

Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. Dan, langkah keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.

Upaya inkubasi telah dilakukan Kemenperin dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park – Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

Kontribusi industri
Pada kesempatan tersebut, Menperin berharap kepada pejabat eselon I yang baru dilantik, yakni Sekjen Kemenperin Haris Munandar dan Kepala BPPI Ngakan Timur Antara agar terus memberikan kontribusi yang maksimal bagi tercapainya pertumbuhan industri nasional yang telah ditetapkan.

“Dengan terisinya jabatan Sekjen secara definitif, pelaksanaan koordinasi dan pemberian dukungan berbagai kegiatan kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kemenperin dapat berjalan dengan baik dan lancar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BPPI diharapkan dapat memacu penciptaan inovasi di lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) Kemenperin seperti Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) yang tersebar di berbagai provinsi. Saat ini, Kemenperin mempunyai 23 unit Balai terdiri dari 11 Balai Besar, 11 Baristand Industri dan satu Balai Sertifikasi Industri, dengan jumlah SDM Peneliti sebanyak 291 orang dan Perekayasa sebanyak 52 orang.

“Kami terus mendorong pemerataan pembangunan industri terutama di luar Jawa dalam upaya mewujudkan Indonesia sentris. Apalagi, sektor industri memiliki multiplier effect dan peran yang strategis dalam perekonomian nasional,” papar Airlangga.

Menperin menyebutkan, pada triwulan I tahun 2017, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 20,48 persen terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, di mana sekitar 18,08 persen berasal dari industri pengolahan non-migas. “Kontribusi ini adalah yang terbesar dibandingkan sektor-sektor pembentuk PDB lainnya, seperti pertanian, perdagangan, konstruksi, pertambangan, dan lain-lain,” tegasnya.

Kemenperin mencatat, industri pengolahan non-migas tumbuh sebesar 4,42 persen pada tahun 2016. Kemudian, pada triwulan I tahun 2017, pertumbuhan industri pengolahan non-migas mengalamipeningkatan menjadi 4,71 persen. Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar4,51 persen.

Kinerja yang baik tersebut ditopang oleh ekspor sektor industri yang meningkat sebesar 19,93 persen pada triwulan I tahun 2017. Nilai ekspor sektor industri pada triwulan I tahun 2017 mencapai USD 30,57 miliar atau memberikan kontribusi mencapai 75,28 persen dari total ekspor nasional periode yang sama sebesar USD 40,61 miliar.

Sub sektor industri yang mengalami pertumbuhan tinggi pada triwulan I tahun 2017 adalah industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 8,34 persen, industri makanan dan minuman sebesar 8,15 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar 7,52 persen, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 7,41 persen, serta industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 4,65 persen.

“Momentum yang baik tersebut perlu kita pertahankan atau kita tingkatkan agar target pertumbuhan industri sebesar 5,4 persen untuk tahun 2017 dapat kita capai,” ungkap Airlangga.

KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional