Menu

LII dan PMII Ponorogo Gelar Dialog Kebangsaan Menyoal Ancaman Gerakan Anti Pancasila

  Dibaca : 75 kali
LII dan PMII Ponorogo Gelar Dialog Kebangsaan Menyoal Ancaman Gerakan Anti Pancasila
Dialog Kebangsaan 31 Juli 2017 di gedung Amarta Graha Kwartir Cabang, Ponorogo, Jawa Timur.

AnsorNews.com, PONOROGO – Lentera Indonesia Institute berkerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo menggelar dialog kebangsaan dengan tema, “Dengan Semangat Nasionalisme Kita Perkokoh Persatuan Indonesia dari Ancaman Gerakan Anti Pancasila,” pada 31 Juli 2017 di gedung Amarta Graha Kwartir Cabang, Ponorogo, Jawa Timur.

Dialog ini menghadirkan narasumber Syamsul Ma’arif, M.Pd (Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Wilayah Jawa Timur), Rohmadi, M.Pd.I (Pengurus Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur dan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo) dan Dr. Aris Risdiana Eka Sasmita, S.So.I, MM (Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pengurus PWNU Yogyakarta). Sedikitnya 300 peserta menghadiri acara ini. Terlihat hadir sejumlah mahasiswa, tokoh agama, perwakilan lembaga sosial masyarakat (LSM) dan masyarakat umum.

Syamsul Ma’arif mengatakan hari ini Indonesia berada ditengah kungkungan masalah keberagaman. Menurutnya, hal tersebut sangat disayangkan. Kepada sejumlah mahasiswa yang hadir, ia pun berharap agar mahasiswa atau generasi muda mampu berperan penting untuk mengawal proses demokrasi tersebut. Ditegaskan, mahasiswa harus lebih cerdas dalam meyikapi persoalan bangsa saat ini.

Menurutnya, Islam sendiri memiliki falsafah hidup dalam bernegara yakni “Hubbul Wathan Minal Iman” yang artinya cinta kepada negara adalah sebagian dari iman. Ia pun menjelaskan, perjuangan para Founding Father (Pendiri Bangsa) ini berjuang melawan penjajah tidak berbicara tentang latar belakang agama, kelompok dan suku. Tapi, mereka bergerak melawan penjajah atas nama bangsa Indonesia.

“Ini menegaskan bahwa sebagai umat beragama, sudah seharusnya kita patuh dan menjalankan aturan bernegara yang sudah diatur oleh UUD 1945 dan Pancasila,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, hal senada juga dikatakan oleh Rohmadi. Menurutnya, ummat Islam Indonesia harus bersatu dalam melawan gerakan-gerakan radikal yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dipaparkan, musuh umat Islam hari ini menurutnya kalangan kaum radikal yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi agama tertentu. Ia berharap, agar masyarakat bisa belajar dengan melihat fakta negara-negara Timur Tengah hari ini.

“Lihatlah bagaimana hari ini kondisi umat Islam di Timur Tengah sangat mengkhawatirkan. Terjadi gejolak yang berkepanjangan dan terus berlangsung,” katanya mengkhawatirkan.

Menurut Rohmadi, munculnya gerakan radikal juga bisa melalui media online. Mengingat, katanya, tekhnologi sudah luar biasa, masyarakat kita sudah masuk pada generasi  millenial, artinya informasi apapun saat ini dapat dengan mudah diterima dan di akses oleh jaringan internet dimanapun. Kecanggihan tekhnologi tersebut kemudian dimanfaatkan benar oleh gerakan radikal untuk menyebarkan informasi dan doktrin ajaran radikal.

“Lihatlah bagaimana banyak sekali ujaran-ujaran kebencian yang sering kita jumpai di Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, BBM dan media online lainnya. Kadang yang sering terjadi bahwa informasi-informasi tersebut juga hoax dan kemudian di konsumsi oleh masyarakat umum,” tambahnya.

Mengomentari tingginya gerakan radikal di Indonesia, Dr. Aris Risdiana Eka Sasmita berpendapat, karena masifnya ideologi transnasional yang masuk ke Indonesia yang pada sisi lain masyarakat belum menyiapkan filter atas ideologi-ideologi transnasional seperti ISIS yang masuk.

“Mereka memasukan ideologi mereka untuk memperkuat dan memperbanyak massa,” tegasnya.

Menyoal ideologi transnasional, Aris Risdiana Eka mengpresiasi pemerintah dengan pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menurutnya, upaya yang dilakukan pemerintah dengan membubarkan HTI sudah cukup bagus. Ditegaskan, langkah tersebut dianggap sudah tepat karena memang HTI sudah pada tahapan mengkhawatirkan.

“Bila tidak dibubarkan maka organisasi tersebut sangat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Aris.

 

Editor:
KOMENTAR
Komentar
iklan1-300x250iklan1-300x250

keaktifan TIM REDAKSI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional